Diilhami Pemilik Batik ''Tjokro'', Ciptakan Kreasi Khas Pesisiran
MOTIF batik Semarangan, Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Lasem, Madura, atau motif yang membawa nama daerah tertentu sudah jamak kita temui. Tapi bagaimana dengan motif batik pohon bakau, ubur-ubur, atau plankton? Sudahkah pernah Anda melihat bahkan memakainya?
Motif batik khas kelautan inilah yang sekarang sedang dikembangkan oleh Dr Ir Agus Hartoko MSc, dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro.
Bermula dari perjalanannya ke Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, 8 Februari lalu, Agus berkenalan dengan Bukhari Wiryo Satmoko, pemilik industri batik rumah tangga ‘’Tjokro’’.
Keduanya melakukan perbincangan soal kelautan dan batik tulis bakaran khas Juwana.
Batik bakaran merupakan warisan Nyi Danowati, penjaga museum pusaka dan pembuat seragam prajurit keraton pada akhir Kerajaan Majapahit.
Perbincangan itu yang mengilhami Agus untuk membuat motif baru, yakni pohon bakau hanya dalam waktu sepuluh menit.
Sketsa motif bakau tersebut kemudian diterjemahkan oleh Bukhari menjadi desain baru batik tulis bakaran. Sebelumnya, motif batik bakaran yang diajarkan Nyi Danowati adalah motif batik majapahit seperti sekar jagat, padas gempal, magel ati, limaran, dan gandrung. Namun, setelah itu dikembangkan juga motif kontemporer, antara lain motif pohon druju (juwana), gelombang cinta, kedelai kecer, jambu alas, dan blebak urang.
“Saya hanya ingin melestarikan budaya dan menjaga tradisi batik bakaran agar tidak punah. Dengan mengenalkan motif-motif baru batik pesisiran bertema kelautan yang masih memiliki potensi untuk dapat dikembangkan hingga mancanegara,” tutur mantan sekretaris Lemlit Undip itu.
Akar Napas
Menurut pria kelahiran Semarang, 16 Agustus 1957 ini, motif pohon bakau muda dipilih karena satu-satunya jenis tanaman yang bisa hidup di pesisir pantai.
Akar pohon bakau yang besar-besar dan panjang lengkap dengan daun-daunnya tergambar begitu jelas pada motif ini. Seolah Agus ingin menggambarkan sistem akar napas yang menjadi kelebihan tanaman ini.
Ditambahkan, ciri khas batik bakaran bisa dilihat dari motif retak. Kain yang sebelumnya diblok penuh oleh malam, kemudian dipecah-pecah sehingga menjadi retak. Retakan itulah yang kemudian memunculkan motif retak.
“Sejauh ini, kami baru memproduksi beberapa lembar kain batik tulis untuk bahan kemeja pria dan baju wanita,” imbuhnya. (Fani Ayudea-61)
PATI-Pematenan motif batik bakaran yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati bertambah. Sebulan lalu, hanya delapan motif yang mendapatkan hal paten dari Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia melalui Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Dirjen Haki).
Sementara ini, ujar Pratiknyo, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Pati ada tambahan sembilan motif lagi yang mendapat hak paten. ''Sehingga, total motif yang sudah dipatenkan menjadi 17 motif,'' ungkapnya, kemarin.
Sebelumnya, Disperindag telah mendaftarkan hak paten motif batik bakaran sebanyak 22 motif. Sehingga, masih ada lima motif batik bakaran yang belum mendapat pengesahan dari Dirjen Haki.
Kedelapan motif yang baru memperoleh hak paten itu dengan surat Dirjen Haki Nomor HKI.2-HI.01.01-98, sedangkan yang sembilan motif berdasarkan surat Dirjen Haki Nomor HKI.2-HI.01.01-102. ''Baru-baru ini surat dikirimkan dari Dirjen Haki kepada kami,'' kata Pratiknyo.
Untuk mendapatkan hak paten batik bakaran itu, jelasnya, membutuhkan waktu yang sangat lama. Pendaftaran telah dilakukan sekitar dua tahun lalu, tetapi baru mendapat jawaban.
Pematenan yang dikeluarkan Dirjen Haki ini, katanya, batik bakaran termasuk hasil kebudayaan rakyat atau ekspresi folklor. Sehingga, batik bakaran menjadi milik bersama yang berasal dari Kabupaten Pati.
Sementara itu, Hj Kartina Sukawati, Wakil Bupati Pati berharap, batik bakaran menjadi pelajaran muatan lokal di Kabupaten Pati. Sehingga, keberadaan batik bakaran ini dapat terjaga dengan baik. (ris/joe)
Adanya peresmian batik dari Unesco sebagai kebudayaan asli Indonesia berdampak pada permintaan pesanan batik. Namun, semua pesanan tidak mampu dilakukan oleh Bukhari, pemilik batik Tjokro dari Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana. Disebabkan apa?
RIS ANDY KUSUMA, Pati-Hampir setiap hari rumah berada jalan Mangkudipuro, No 196 Desa Bakaran Wetan tidak pernah sepi dari pemesanan batik. Padahal, tahun 1998 lalu sempat menutup usaha batik yang ditekuni sejak tahun 1975.
Pria penerima penghargaan Byasana Bhakti Upapradana dari Gubernur Jateng pada 1994 dan Upakarti kategori Pelestari Budaya dari Presiden RI tahun 2008 ini setiap hari harus melayani permintaan antara 25-30 pesanan. Namun, kapasitas produksi yang dimiliki hanya 20 batik saja.
"Itu pun bukan batik yang kuno, batik yang sudah mengalami modifikasi. Sehingga, pesanan harus menunggu dulu yang lebih lama daripada biasanya," ungkap suami Tini, kemarin.
Pesanan tidak berhenti, lanjutnya, mulai sebelum lebaran tiba. Menjelang lebaran kemarin, dia mengaku, sudah tidak melayani pesanan mengingat keterbatasan tenaga yang dimiliki.
Usaha yang dijalani ini, Bukhari mengaku saat ini telah memiliki sekitar 50 pekerja. Namun, tidak semua pekerjanya setiap hari yang full time bekerja untuk membatik di tempatnya.
"Namanya orang hidup di desa ini mempunyai sosial yang tinggi, terkadang para pekerja ini ada yang saudara atau tetangganya yang punya kerja, pekerja tidak bisa membatik. Rata-rata setiap harinya ada separonya saja," paparnya.
Rata-rata pembatik yang bekerja ditempatnya usianya memang bukan usia yang muda. Dia mengatakan, kesulitan mencari pembatik yang bisa bekerja secara full time untuk dapat melayani pesanan.
Sehingga, jumlah pesanan dengan kapasitas produksinya dapat sama. Para pencinta batik tidak perlu lagi lama menunggu pesanan. Sementara ini, dia mengaku, tidak melayani pesanan batik bakaran yang kuno, karena memakan waktu yang lebih lama.
Selain itu, batik bakaran kuno kurang begitu diminati mengingat harga batiknya sangat mahal dibandingkan dengan biasa. "Prosesnya yang lebih rumit menjadikan harganya lebih mahal," tandasnya. (*)
9 Motif Batik Bakaran Mendapatkan Hak Paten dari Dirjen Haki pasfmpati.com (Pati, Kota)
Hasil karya batik tulis asal Bakaran Kecamatan Juwana, tidak dapat diklaim patenkan milik perseorangan. Justru hak paten dari Dirjen Hak Atas Kekayaan Intelektual [HAKI], memasukkan motif – motif batik khas bakaran tersebut, dalam daftar inventaris kekayaan budaya asal Kabupaten Pati.
Untuk mendapatkan hak paten dari Dirjen HAKI, Pemkab Pati membutuhkan waktu selama 2 tahun. Motif batik bakaran yang kini telah mendapatkan hak paten itu, sebelumnya telah didaftarkan sejak tahun 2006 lalu, dengan menggunakan dana dari APBD Kabupaten Pati.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kabupaten Pati Ir Pratiknyo kepada PAS Pati menjelaskan, sejak tahun 2006 lalu sebenarnya ada 22 motif batik khas bakaran yang diajukan atau didaftarkan untuk mendapatkan hak paten. Tapi baru pada dua bulan lalu, hak paten itu, turun.
“Itu sudah lama, sudah hampir dua tahunan lebih. Seluruhnya ada 22 motif batik khas bakaran yang kita usulkan ke Dirjen HAKI. Tapi yang baru mendapat baru 9. Lainnya masih dalam penelitian, jangan – jangan didaerah lain, ada motif yang sama. Jadi prosesnya kan lama ya.”, jelas Ir Pratiknyo.
Langkah Pemkab Pati untuk mematenkan batik khas bakaran tersebut, selain untuk melindungi para perajin batik dari klaim orang lain, juga sebagai khasanah budaya, yang dimiliki Kabupaten Pati. Tapi dalam penjualan produknya, Kepala Disperindag Ir Pratiknya berharap, para perajin tetap menggunakan cap Pemkab Pati. “Nanti tetap capnya pakai cak Kabupaten Pati. Jadi kalau belum dipatenkan itu kawatirnya, saat kita produksi kemudian ketangkap Polisi kemudian diakui orang lain, kan gitu.”, jelas Ir Pratiknyo.
Kesembilan motif batik khas Bakaran Juwana yang telah mendapat pengakuan dengan mengantongi hak paten dari Dirjen HAKI diantaranya, motif batik gringsing, limaran, sidorukun, rawan, liris, sidomukti, Truntum, kopi pecah, dan bledak kopik.
Bukhari yang sebelumnya sebagai pengrajin (Batik Tulis Tjokro) ke 22 motif itu mempersilahkan motif itu menjadi milik pemkab Pati. Sebab selama ini dia hanya berusaha melestarikan batik yang diwariskan para canggah secara turun temurun kepadanya.
Miyati (50), warga Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, sudah sejak kecil membatik. Namun, ia tidak pernah berpikir mendirikan usaha batik sendiri lantaran tidak ada modal.
Miyati yang berasal dari keluarga nelayan dan buruh tani itu lebih senang membatik ikut orang. Maka tidak mengherankan jika ia selalu berpindah-pindah tuan atau bahkan tidak bekerja karena tidak ada lowongan membatik.
Terakhir kali, terhitung sejak 15 tahun lalu, ibu beranak dua itu bekerja di industri batik rumah tangga ”Tjokro” milik Bukhari Wiryo Satmoko (58), generasi kelima pembatik tulis bakaran. Ia mensyukuri berkat keterampilan membatik itu perekonomian keluarganya tidak tertatih-tatih.
”Coba kalau tidak punya keterampilan itu, saya tidak akan bisa membantu suami menghidupi keluarga,” kata istri buruh ngedos atau panen padi yang mendapatkan upah Rp 30.000 per hari, Minggu (19/4) di Juwana.
Dalam sebulan, Miyati mengantongi pendapatan rata-rata Rp 900.000. Hasil membatik itu ia gunakan untuk menyekolahkan anak dan mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Parmi (48), warga Desa Bakaran Wetan, mengakui pula kalau membatik itu meringankan tanggungan ekonomi keluarga. Istri buruh serabutan itu semula tidak bekerja atau menjadi ibu rumah tangga saja.
Situasi perekonomian keluarga Parmi tidak karuan lantaran suaminya kadang kala mendapat pekerjaan, tetapi kadang tidak. Dalam sebulan, suaminya rata-rata bekerja selama 15-20 hari saja. ”Pendapatannya per hari Rp 25.000-Rp 30.000. Hasil itu sangat pas-pasan bahkan kerap tidak cukup untuk membiayai sekolah anak dan hidup sehari-hari,” kata ibu tiga anak itu.
Kondisi tersebut memaksa Parmi kembali menekuni batik yang dahulu pernah dilakukan saat kecil. Ia bekerja di industri rumah tangga batik Tjokro sejak tiga tahun lalu.
Meski harus bersusah payah mengingat kembali keterampilan yang dahulu pernah digelutinya, Parmi tidak pernah putus asa. Anak-anak menjadi semangat Parmi untuk menggulati batik. ”Tidak ada setengah tahun, saya sudah diangkat sebagai karyawan harian. Pasalnya, hasil batikan saya dinilai bagus dan rapi,” kata Parmi.
Keterampilan membatik tulis bakaran di Desa Bakaran Wetan itu punya sejarah yang melegenda. Keterampilan itu tak lepas dari buah didikan Nyi Danowati, penjaga museum pusaka dan pembuat seragam prajurit pada akhir Kerajaan Majapahit abad ke-14.
Waktu itu, Kerajaan Majapahit yang diperintah Girindrawardhana yang bergelar Brawijaya VI (1478-1498) berada dalam desakan Kerajaan Demak yang menganut Islam. Sejumlah pengikut Brawijaya yang menganut Hindu-Buddha memilih hengkang dari Majapahit karena tidak mau masuk Islam.
Salah satu pengikut Brawijaya itu adalah Nyi Danowati. Bersama tiga saudaranya, yaitu Ki Dukut, Kek Truno, dan Ki Dalang Becak, perempuan yang konon berparas ayu itu pergi menyusuri pantai utara Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, Nyi Danowati dan dua saudaranya berpisah dengan Ki Dalang Becak. Ia melanjutkan perjalanan hingga ke kawasan rawa-rawa yang penuh pohon druju atau sejenis semak berduri, sedang Ki Dalang Becak menetap di Tuban.
Bersama Ki Dukut, Nyi Danowati membuka lahan di daerah rawa-rawa itu sebagai tempat tiras pandelikan atau tempat persembunyian. Lantaran Ki Dukut itu seorang lelaki, ia mampu membuka lahan yang sangat luas, sedangkan lahan Nyi Danowati sempit.
Tak kurang akal, Nyi Danowati mengadakan perjanjian dengan Ki Dukut. Ia meminta sebagian lahan Ki Dukut dengan cara menentukan batas lahan melalui debu hasil bakaran yang terjatuh di jarak terjauh.
Ki Dukut menyetujui usulan itu. Jadilah kawasan Nyi Danowati lebih luas sehingga sebagian kawasan diberikan kepada Kek Truno yang tidak mau babat alas. Daerah milik Nyi Danowati dinamai Bakaran Wetan, sedang milik Kek Truno bernama Bakaran Kulon.
Adapun Ki Dukut yang kawasannya sangat sempit itu menamakan daerah itu Pedukuhan Alit atau Dukutalit. Ketiga desa itu sampai sekarang tetap ada dan saling berbatasan satu dengan yang lain. Secara lebih luas lagi, kawasan itu dikenal sebagai Drujuwana (hutan druju) atau Juwana.
Di Bakaran Wetan itulah Nyi Danowati membangun permukiman baru. Sejumlah warga yang semula tidak mau menempati daerah berawa-rawa itu mulai tertarik membangun permukiman di sekitar rumah Nyi Danowati.
Agar tidak dicurigai orang bahwa ia pemeluk agama Hindu-Buddha, Nyi Danowati mengubah nama menjadi Nyai Ageng Siti Sabirah. Ia juga mendirikan masjid tanpa mihrab yang disebut Sigit. Di pendopo dan pelataran Sigit itulah Nyi Danowati mengajar warga membatik.
Pengusaha batik ”Tjokro” sekaligus sesepuh masyarakat Desa Bakaran Wetan, Bukhari, mengatakan, motif batik yang diajarkan Nyi Danowati adalah motif batik majapahit. Misalnya, sekar jagat, padas gempal, magel ati, dan limaran.
”Motif khusus yang diciptakan Nyi Danowati sendiri adalah motif gandrung. Motif itu terinspirasi dari pertemuan dengan Joko Pakuwon, kekasihnya, di tiras pandelikan,” katanya.
Bukhari mengisahkan, waktu itu Joko Pakuwon berhasil menemukan Nyi Danowati. Kedatangan Joko Pakuwon membuat Nyi Danowati yang sedang membatik melonjak gembira sehingga secara tidak sengaja tangan Nyi Danowati mencoret kain batik dengan canting berisi malam.
Coretan itu membentuk motif garis-garis pendek. Di sela-sela waktunya, Nyi Danowati menyempurnakan garis-garis itu menjadi motif garis silang yang melambangkan kegandrungan atau kerinduan yang tidak terobati.
”Pasalnya, Nyi Danowati tahu Joko Pakuwon tidak perjaka lagi atau berselingkuh saat ia pergi meninggalkan Majapahit,” kata Bukhari.
Menurut Bukhari, motif-motif khas itu perlu mendapat perlakuan khusus dalam pewarnaan. Pewarnanya pun harus menggunakan bahan-bahan alami. Misalnya, kulit pohon tingi yang menghasilkan warna coklat, kayu tegoran warna kuning, dan akar kudu warna sawo matang.
Sayangnya, bahan-bahan pewarna itu sudah sulit ditemui. Hal itu terjadi sejak zaman kakek Bukhari, Turiman Tjokro Satmoko, generasi ketiga batik tulis bakaran. Waktu itu, batik bakaran menjadi komoditas perdagangan antarpulau melalui Pelabuhan Juwana dan menjadi tren pakaian para pejabat Kawedanan Juwana.
”Meskipun kesulitan bahan pewarna, batik tulis bakaran banyak peminat. Kondisi itu menyebabkan permintaan tenaga kerja cukup besar. Kakek saya dapat menggandeng sekitar 50 ibu rumah tangga untuk membatik,” kisah Bukhari.
Kini, batik tulis bakaran dikembangkan empat pengusaha, satu pengusaha di Bakaran Wetan, dan tiga yang lain di Bakaran Kulon. Setiap pengusaha rata-rata menggandeng 50 karyawan yang berasal dari ibu-ibu rumah tangga atau remaja putus sekolah.
Selain melestarikan motif Nyi Danowati, mereka juga mengembangkan aneka macam motif kontemporer, antara lain motif pohon druju (juwana), gelombang cinta, kedele kecer, jambu alas, dan blebak urang. Harga per kain batik Rp 100.000-Rp 1,5 juta.
Bukhari sendiri setiap bulan meraih omzet Rp 40 juta-Rp 60 juta dengan pemasaran sampai Bali dan Jakarta. Tentu saja Semarang, Blora, Rembang, juga jadi pasarnya, dan sesekali ke Kanada. ”Tanpa istri saya, Tini (51), dan para ibu rumah tangga serta para perempuan putus sekolah, batik bakaran tidak akan bermasa depan cerah. Merekalah yang mengembangkan batik itu selagi suami pergi ke laut, mengolah tambak dan sawah, serta menjadi buruh,” kata Bukhari.