Kamis, 14 Oktober 2010

Kabar dari Kompas 7 Oktober 2010

KERAJINAN BATIK

90 Motif Batik Bakaran Belum Dipatenkan
Kamis, 7 Oktober 2010 11:38 WIB

PATI, KOMPAS - Sebanyak 90 motif dari 108 motif batik Bakaran, hasil produksi perajin batik di Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, hingga kini belum dipatenkan. Hal itu menyebabkan motif-motif Bakaran mudah ditiru dan diklaim perajin batik dari luar daerah, bahkan dari negara lain seperti Malaysia dan China.

Motif-motif batik yang belum dipatenkan itu antara lain motif garuda, prenjak, kolibri, benalu, kupu dadap, pring sedapur, dan merak bambu. Motif-motif itu merupakan karya baru atau pengembangan motif-motif batik Bakaran klasik, seperti motif gandrung, sekar jagat, padas gumpal, magel ati, dan limaran.

Perajin batik Bakaran "Tjokro", Bukhari, saat ditemui, Rabu (6/10), di Pati mengatakan, para perajin atau pemilik motif enggan mematenkan karena tidak mempunyai dana. Banyak perajin beranggapan lebih baik mengunakan dana untuk tambahan modal ketimbang mematenkan motif.

Selain itu, proses pematenan membutuhkan waktu sekitar dua tahun. Padahal, waktu tersebut sangat cukup bagi perajin luar daerah atau negara lain untuk meniru dan mematenkan terlebih dahulu motif batik Bakaran yang sedang populer.

"Para perajin juga beranggapan dipatenkan atau tidak dipatenkan itu sama saja. Selama ini tak pernah ada tindakan dari pemerintah kepada pelaku-pelaku yang meniru motif yang sudah dipatenkan, apalagi jika itu dari negara lain," kata dia.

Di Rembang, pematenan motif batik tidak lagi menjadi perhatian utama para perajin. Bahkan, saat ini mereka sedang berupaya mengembangkan batik kombinasi cap dan tulis untuk membuka persaingan dengan produk tekstil batik asal China yang harganya murah.

Pakaian jadi bercorak batik asal China harga paling murah Rp 40.000 per potong. Sementara pakaian batik tulis, harganya rata-rata di atas Rp 100.000 per potong.

Ketua Koperasi Batik Lasem, Santoso, mengemukakan, perajin kini membuat inovasi batik kombinasi untuk memenuhi permintaan konsumen dalam jumlah banyak. Harga batik kombinasi lebih murah dan terjangkau.

"Rencananya, produk itu akan dikembangkan tidak hanya dalam bentuk baju atau pakaian jadi, tetapi juga tas dan sandal," ujarnya. (hen)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar