Kamis, 21 Juli 2011

Perbedaan Batik Tulis dan Cap Lilin (stempel)

Perkembangan batik pada masa sekarang cukup menggembirakan, hal ini berdampak positif bagi produsen batik-batik di berbagai daerah. Permintaan batik tulis maupun batik cap sangat tinggi sekali, walaupun kebutuhan pasar batik tersebut sebagian sudah dipenuhi dengan tekstil bermotif batik yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan tekstil yang bermodal besar dan juga tekstil bermotif batik dari negeri tirai bambu china.

Beberapa pengrajin batik menghendaki untuk pembayaran di muka agar produksinya bisa lancar dan pembeli akan segera menerima pesanan yang diminta, hal ini mengingatkan pada masa tahun 70-an dimana pada waktu itu batik juga mengalami permintaan yang cukup lumayan jumlahnya.Perbedaan batik tulis dan batik cap bisa dilihat dari beberapa hal sbb:

Batik Tulis

  1. Dikerjakan dengan menggunakan canting yaitu alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk bisa menampung malam (lilin batik) dengan memiliki ujung berupa saluran/pipa kecil untuk keluarnya malam dalam membentuk gambar awal pada permukaan kain.
  2. Bentuk gambar/desain pada batik tulis tidak ada pengulangan yang jelas, sehingga gambar nampak bisa lebih luwes dengan ukuran garis motif yang relatif bisa lebih kecil dibandingkan dengan batik cap.
  3. Gambar batik tulis bisa dilihat pada kedua sisi kain nampak lebih rata (tembus bolak-balik) khusus bagi batik tulis yang halus.
  4. Warna dasar kain biasanya lebih muda dibandingkan dengan warna pada goresan motif (batik tulis putihan/tembokan).
  5. Setiap potongan gambar (ragam hias) yang diulang pada lembar kain biasanya tidak akan pernah sama bentuk dan ukurannya. Berbeda dengan batik cap yang kemungkinannya bisa sama persis antara gambar yang satu dengan gambar lainnya.
  6. Waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan batik tulis relatif lebih lama (2 atau 3 kali lebih lama) dibandingkan dengan pembuatan batik cap. Pengerjaan batik tulis yang halus bisa memakan waktu 3 hingga 6 bulan lamanya.
  7. Alat kerja berupa canting harganya relatif lebih murah berkisar Rp. 10.000,- hingga Rp. 20.000,-/pcs.
  8. Harga jual batik tulis relatif lebih mahal, dikarenakan dari sisi kualitas biasanya lebih bagus, mewah dan unik.

Batik Cap

  1. Dikerjakan dengan menggunakan cap (alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk sesuai dengan gambar atau motif yang dikehendaki). Untuk pembuatan satu gagang cap batik dengan dimensi panjang dan lebar : 20 cm X 20 cm dibutuhkan waktu rata-rata 2 minggu.
  2. Bentuk gambar/desain pada batik cap selalu ada pengulangan yang jelas, sehingga gambar nampak berulang dengan bentuk yang sama, dengan ukuran garis motif relatif lebih besar dibandingkan dengan batik tulis.
  3. Gambar batik cap biasanya tidak tembus pada kedua sisi kain.
  4. Warna dasar kain biasanya lebih tua dibandingkan dengan warna pada goresan motifnya. Hal ini disebabkan batik cap tidak melakukan penutupan pada bagian dasar motif yang lebih rumit seperti halnya yang biasa dilakukan pada proses batik tulis. Korelasinya yaitu dengan mengejar harga jual yang lebih murah dan waktu produksi yang lebih cepat. Waktu yang dibutuhkan untuk sehelai kain batik cap berkisar 1 hingga 3 minggu.
  5. Untuk membuat batik cap yang beragam motif, maka diperlukan banyak cap. Sementara harga cap batik relatif lebih mahal dari canting. Untuk harga cap batik pada kondisi sekarang dengan ukuran 20 cm X 20 cm berkisar Rp. 350.000,- hingga Rp. 700.000,-/motif. Sehingga dari sisi modal awal batik cap relatif lebih mahal.
  6. Jangka waktu pemakaian cap batik dalam kondisi yang baik bisa mencapai 5 tahun hingga 10 tahun, dengan catatan tidak rusak. Pengulangan cap batik tembaga untuk pemakainnya hampir tidak terbatas.
  7. Harga jual batik cap relatif lebih murah dibandingkan dengan batik tulis, dikarenakan biasanya jumlahnya banyak dan miliki kesamaan satu dan lainnya tidak unik, tidak istimewa dan kurang eksklusif.

Disamping adanya perbedaan dari sisi visual antara batik tulis dan batik cap, namun dari sisi produksi ada beberapa kesamaan yang harus dilalui dalam pengerjaan keduanya. Diantaranya adalah sbb:

  • Keduanya sama-sama bisa dikatakan kain batik, dikarenakan dikerjakan dengan menggunakan bahan lilin sebagai media perintang warna.
  • Dikerjakan hampir oleh tangan manusia untuk membuat gambar dan proses pengerjaan buka tutup warnanya.
  • Bahan yang digunakannya juga sama berupa bahan dasar kain yang berwarna putih, dan tidak harus dibedakan jenis bahan dasar benangnya (katun atau sutra) atau bentuk tenunannya.
  • Penggunaan bahan-bahan pewarna serta memproses warnanya sama, tidak ada perbedaan anatara batik tulis dan batik cap.
  • Cara menentukan lay-out atau patron dan juga bentuk-bentuk motif boleh sama diantara keduanya. Sehingga ketika keduanya dijahit untuk dibuat busana tidak ada perbedaan bagi perancang busana atau penjahitnya. Yang membedakan hanya kualitas gambarnya saja.
  • Cara merawat kain batik (menyimpan, menyuci dan menggunakannya) sama sekali tidak ada perbedaan.
  • Untuk membuat keduanya diperlukan gambar awal atau sket dasar untuk memudahkan dan mengetahui bentuk motif yang akan terjadi.

Tetapi sekarang dengan perkembangan pasar akan batik dan kreatifitas pembatik munculah teknik membatik yang menggabungkan keduanya, cintailah produk batik tulis asli buatan tangan-tangan terampil anak bangsa "Hidup Batik Tulis Indonesia".

Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan NonbendawiMasterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009. [1] (

Etimologi

Kata "batik" berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: "amba", yang bermakna "menulis" dan "titik" yang bermakna "titik".[rujukan?]

Sejarah teknik batik

Seni pewarnaan kain dengan teknik pencegahan pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T'ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal.[2]. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.[3]

Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. [2]Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik.[4]

G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.[4] Detil ukiran kain yang menyerupai pola batik dikenakan oleh Prajnaparamita, arca dewi kebijaksanaan buddhis dari Jawa Timur abad ke-13. Detil pakaian menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang rumit yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa yang dapat ditemukan kini. Hal ini menunjukkan bahwa membuat pola batik yang rumit yang hanya dapat dibuat dengan canting telah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal.

Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa.[5] Oleh beberapa penafsir,who? serasah itu ditafsirkan sebagai batik.

Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.[2]

Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Pada saat yang sama imigran dari Indonesia ke Persekutuan Malaya juga membawa batik bersama mereka.

Budaya batik

Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.

Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.

Corak batik

Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga memopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

Cara pembuatan

Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.

Jenis batik

Menurut teknik
  • Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
  • Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.
  • Batik lukis adalah proses pembuatan batik dengan cara langsung melukis pada kain putih.

Menurut asal pembuatan

Batik Jawa
batik Jawa adalah sebuah warisan kesenian budaya orang Indonesia, khususnya daerah Jawa yang dikuasai orang Jawa dari turun temurun. Batik Jawa mempunyai motif-motif yang berbeda-beda. Perbedaan motif ini biasa terjadi dikarnakan motif-motif itu mempunyai makna, maksudnya bukan hanya sebuah gambar akan tetapi mengandung makna yang mereka dapat dari leluhur mereka, yaitu penganut agama animisme, dinamisme atau Hindu dan Buddha. Batik jawa banyak berkembang di daerah Solo atau yang biasa disebut dengan batik Solo.

Motif Batik berdasarkan daerah asal


Selasa, 10 Mei 2011

Tips Merawat Batik Tulis

Tips merawat batik tulis

Ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan agar busana atau kain batik Anda tetap indah, diantaranya adalah sebagai berikut :
• Mencuci kain batik dengan menggunakan shampo rambut. Sebelumnya, larutkan dulu shampo hingga tak ada lagi bagian yang mengental. Setelah itu baru kain batik dicelupkan. Anda juga bisa menggunakan sabun pencuci khusus untuk kain batik, yang di sebut dengan relak yang dijual di pasaran.
• Pada saat mencuci batik jangan digosok dan jangan gunakan deterjen. Jika batik Anda tidak terlalu kotor maka Anda bisa mencucinya dengan air hangat. Tapi jika batik Anda terkena noda maka Anda bisa mencucinya cukup dengan sabun mandi saja. Akan tetapi jika nodanya masih membandel maka Anda bisa menghilangkannya dengan kulit jeruk pada bagian yang kotor saja. Janganlah mencuci kain batik dengan menggunakan mesin cuci.
• Setelah kotoran hilang Anda harus menjemurnya di tempat yang teduh tetapi Anda tidak perlu memerasnya, biarkan saja kain tersebut mengering secara alami. Pada saat menjemur sebaiknya Anda tarik bagian tepi kain agar serat kain yang terlipat kembali seperti sediakala.
• Hindari penyetrikaan secara langsung, jika terlalu kusut Anda bisa semprotkan air di atas kain batik Anda lalu lapisi batik Anda dengan kain lainnya. Hal ini untuk menghindari kain batik Anda terkena panas langsung dari setrikaan.
• Bila Anda ingin memberi pewangi dan pelembut kain pada batik tulis, jangan disemprotkan langsung pada kainnya. Sebelumnya, tutupi dulu kain dengan Koran, lalu semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain. Sebaiknya Anda tidak menyemprotkan parfum atau minyak wangi langsung ke kain atau pakaian berbahan batik sutera berpewarna alami.
• Sesudah disetrika sebaiknya Anda simpan batik Anda dalam plastik agar tidak dimakan ngengat. Sebaiknya Anda jangan memberi kapur barus karena zat padat ini terlalu keras sehingga bisa merusak kain batik Anda. Ada baiknya Anda beri merica atau lada yang dibungkus dengan tisu lalu masukkan dalam lemari pakaian Anda untuk mengusir ngengat. Atau Anda bisa menggunakan akar wangi yang sebelumnya Anda celup ke dalam air panas kemudian dijemur, lalu dicelup sekali lagi ke dalam air panas dan dijemur. Setelah akar wangi tersebut kering Anda baru bisa menggunakannya.

Kamis, 14 Oktober 2010

Kabar dari Kompas 7 Oktober 2010

KERAJINAN BATIK

90 Motif Batik Bakaran Belum Dipatenkan
Kamis, 7 Oktober 2010 11:38 WIB

PATI, KOMPAS - Sebanyak 90 motif dari 108 motif batik Bakaran, hasil produksi perajin batik di Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, hingga kini belum dipatenkan. Hal itu menyebabkan motif-motif Bakaran mudah ditiru dan diklaim perajin batik dari luar daerah, bahkan dari negara lain seperti Malaysia dan China.

Motif-motif batik yang belum dipatenkan itu antara lain motif garuda, prenjak, kolibri, benalu, kupu dadap, pring sedapur, dan merak bambu. Motif-motif itu merupakan karya baru atau pengembangan motif-motif batik Bakaran klasik, seperti motif gandrung, sekar jagat, padas gumpal, magel ati, dan limaran.

Perajin batik Bakaran "Tjokro", Bukhari, saat ditemui, Rabu (6/10), di Pati mengatakan, para perajin atau pemilik motif enggan mematenkan karena tidak mempunyai dana. Banyak perajin beranggapan lebih baik mengunakan dana untuk tambahan modal ketimbang mematenkan motif.

Selain itu, proses pematenan membutuhkan waktu sekitar dua tahun. Padahal, waktu tersebut sangat cukup bagi perajin luar daerah atau negara lain untuk meniru dan mematenkan terlebih dahulu motif batik Bakaran yang sedang populer.

"Para perajin juga beranggapan dipatenkan atau tidak dipatenkan itu sama saja. Selama ini tak pernah ada tindakan dari pemerintah kepada pelaku-pelaku yang meniru motif yang sudah dipatenkan, apalagi jika itu dari negara lain," kata dia.

Di Rembang, pematenan motif batik tidak lagi menjadi perhatian utama para perajin. Bahkan, saat ini mereka sedang berupaya mengembangkan batik kombinasi cap dan tulis untuk membuka persaingan dengan produk tekstil batik asal China yang harganya murah.

Pakaian jadi bercorak batik asal China harga paling murah Rp 40.000 per potong. Sementara pakaian batik tulis, harganya rata-rata di atas Rp 100.000 per potong.

Ketua Koperasi Batik Lasem, Santoso, mengemukakan, perajin kini membuat inovasi batik kombinasi untuk memenuhi permintaan konsumen dalam jumlah banyak. Harga batik kombinasi lebih murah dan terjangkau.

"Rencananya, produk itu akan dikembangkan tidak hanya dalam bentuk baju atau pakaian jadi, tetapi juga tas dan sandal," ujarnya. (hen)

Senin, 04 Oktober 2010

Berita dari Suara Merdeka

02 Oktober 2010
Usaha Batik setelah Setahun Diakui UNESCO (1)

Berkembang di Daerah, Belum Bisa Tembus Ekspor

image
SM/Mulyanto Ari Wibowo MEWARNAI BATIK: Pengusaha batik lasem Widji Soeharto melakukan pewarnaan di tempat kerjanya kemarin. (46)

Setahun lalu, batik Indonesia resmi diakui UNESCO.

Produk asli negeri ini masuk daftar representatif sebagai budaya tak benda warisan manusia dalam sidang ke-4 Komite Antarpemerintah di Abu Dhabi, 2 Oktober 2009. Bagaimana para stakeholder’s itu menjaga eksistensi batik di sejumlah daerah di Jateng? Berikut laporan Suara Merdeka.

Batik sudah menjadi warisan budaya yang diakui United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Ada hasil yang cukup signifikan dengan penetapan itu. Namun ada pula tantangan mengadang para perajin batik.

Seorang lelaki berumur 70-an tahun, membuka pintu pagar kayu setinggi dua meter. Dengan ramah, pria yang masih mengenakan baju berlumuran tinta itu mempersilakan masuk rumah kuno berarsitektur campuran China - Eropa di jalan Babagan IV/7 Desa Babagan Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang.

Seusai memasuki halaman rumah yang ditumbuhi dua pohon mangga rimbun, kami dibawa ke teras yang dipasangi tiga buah etalase kaca. Di dalam etalase itu dipajang puluhan lembar kain batik dengan berbagai macam motif. Di setiap kain, tertempel secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang menunjukkan harga jual batik yang dipajang.

Dari mulai yang termurah Rp 175.000 per lembar hingga Rp 3 jutaan per lembar, terpampang di etalase yang selalu terkunci itu.

”Lumayan, meski kecil-kecilan dan terlihat seadanya, setahun ini sudah bisa buat showroom sederhana. Keuntungan sedikit demi sedikit dikumpulkan untuk buat showroom,” jelas Widji Suharto, si empunya rumah.

Pemilik usaha batik lasem cap Padie Boeloe ini menuturkan, setelah penetapan UNESCO, berbagai kalangan mulai menaruh perhatian lebih terhadap batik. Event-event pameran ramai digelar. Orang dari sejumlah daerah juga berburu batik hingga ke Lasem. ”Bahkan, kemudian ada yang menjadi agen penjualan di Jakarta, Bogor hingga Papua. Setahun ini, penjualan cukup lumayanlah,” ujar dia.

Widji bukan satu-satunya pengusaha batik yang mulai agresif memperlebar pasar. Setidaknya, selain showroom batik lasem yang dikelola koperasi pengusaha batik di Lasem, di kecamatan tersebut kini ada tiga ruang pamer yang dikelola secara profesional. Ketiga ruang pamer itu yaitu Batik Kuda milik Purnomo di Jalan Raya Pantura Lasem, Batik Pusaka Beruang milik Santosa, dan Surya Kencana milik Sri Susiloningsih.


Pengusaha batik yang belum bisa mendirikan showroom, juga berusaha agresif dengan cara memasang papan-papan nama di jalan-jalan strategis sebagai petunjuk menuju rumah sang pengusaha.

Ketua Koperasi Batik Lasem Santosa mengakui, dalam setahun ini perkembangan batik memang luar biasa. Namun, dia juga mengaku masih banyak tantangan bagi pengusaha batik lasem. ”Sampai saat ini belum ada entrepreneur batik lasem yang bisa menembus pasar ekspor,” kata pemilik usaha batik lasem cap Pusaka Beruang ini.

Selain itu, tantangan perkembangan batik ke depan adalah melonjaknya bahan baku kain. Setahun ini, harga kain mori sebagai bahan utama batik terus mengalami kenaikan. Untuk kain katun jenis prima yang semula harga per yard (90 cm) hanya Rp 5.400, naik menjadi Rp 6.400. Jenis primis dari Rp 8.750 menjadi Rp 9.250. Jenis kereta kencana, dari Rp 14.864 menjadi Rp 16.486. ”Tahun ini, kenaikan bahan utama batik mencapai 10 persen. Kenaikan kain mori ini dikarenakan bahan baku kain dari negara penghasil kapas seperti India sudah dikontrak China,” papar dia.

Meski harga kain mori mulai melonjak, pengusaha tidak berani menaikkan harga kain batik lasem. Bila nekat, pengusaha khawatir pasar batik yang sedang mulai berkembang ini akan lari tunggang langgang. ”Namun bila tidak dinaikkan, ongkos produksi kami juga mulai naik. Selain kain, pembatik juga banyak yang minta kenaikan upah,” tandas Widji.

Lain halnya dengan batik bakaran asal Juwana, Kabupaten Pati. Perkembangan batik tulis bakaran, belakangan ini cenderung stagnan. Setelah kebangkitannya pada 2000, hingga saat ini grafik pergerakan produksi, dan pemasarannya mentok pada titik yang bisa jadi belum maksimal dibanding era puncak kebangkitan, empat tahun lalu.

Keberadaan batik tulis khas Pati terangkat sejak “tertidur” sekian lama. Konon, batik bakaran dulunya dipasarkan keliling dari pasar ke pasar di seputaran Bumi Minta Tani. Namun, seiring perkembangannya, warisan budaya leluhur itu mampu menembus berbagai kalangan hingga menaikkan produksinya.

Memberi Dukungan
Kebijakan Pemkab Pati memberi dorongan tersendiri bagi geliat perkembangan batik bakaran. Dengan diwajibkannya pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemkab Pati mengenakan pakaian batik dua kali sepekan, menjadi angin segar bagi perkembangannya.

Pergerakan usaha batik tulis yang tersentral di Kecamatan Juwana, khususnya Desa Bakaran Wetan dan Bakaran Kulon, setelah sekian lama tidak banyak berubah. Meskipun terangkat dengan pasar PNS, minim sekali perajin yang mau bergelut dengan canting.

Potensi tambak dan hasil laut yang dianggap lebih menjanjikan penghasilan masyarakat pesisir Juwana tampaknya berpengaruh pada ketertarikan mereka mewarisi karya budaya leluhur.

Pada perkembangannya, batik bakaran tidak lepas dari jargon Bumi Mina Tani. Itu tergambar dari motif yang terbentuk, baik yang orisinel maupun modifikasi. Bukan hanya hasil bumi (kopi dan kedelai) yang terpola dalam kain batik, torehan lilin seakan juga mengekspresikan hasil laut, seperti udang, dan ikan. Semuanya tergambar dari sejumlah motif asli dan hasil kreasi perajin generasi belakangan.


Setidaknya ada 21 motif batik tulis bakaran yang selama ini diklaim asli oleh pelaku batik di Juwana. Aneka motif tersebut delapan di antaranya telah mendapat pengakuan dari Depkum HAM Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Ditjen Haki), tahun lalu adalah blebak kopik, rawan, liris, kopi pecah, truntum, gringsing, sidomukti, sidorukun, dan limaran.

Mulanya, pengajuan tersebut untuk perorangan, tetapi Haki mencatatnya sebagai hak cipta Pemkab Pati lantaran dinilai milik bersama. Adapun 13 motif lainnya yang masih dalam proses pemeriksaan lebih lanjut dari pihak terkait antara lain, manggaran, adas gempal, bregat ireng, kedele kecer, merak ngigel, magel ati, blebak urang, blebak lung, nam tikar, truntum, blebak duri, ungker cantel, dan puspo baskoro.

Alasan klise permodalan, dianggap menjadi pangadang perkembangan usaha rumahan batik. Mereka hanya mampu berproduksi ketika uang penjualannya telah kembali. Kondisi demikian secara tidak langsung menempatkan batik sebagai usaha sambilan, selain melaut, bertambak, bekerja di tempat pengolahan ikan, atau bertani. Setidaknya hanya tinggal lima perajin yang masih berproduksi. Empat di antaranya di Bakaran Kulon dan sisanya di Bakaran Wetan.

Sebut saja Darmi (45). Pemilik usaha batik tulis Srikandi asal Desa Bakaran Kulon itu, kesulitan modal sehingga usahanya cenderung jalan di tempat. Meskipun puluhan produknya dalam sepekan sering diambil sales untuk dipasarkan ke luar daerah, namun modalnya pas-pasan.

“Kalau membuat batik sih bisa dikebut, tetapi modal kami kurang jadi susah. Kalau soal pemasaran sebenarnya tidak ada masalah, asal tidak menjual terlalu mahal bisa laku,” kata pembatik yang memiliki 10 pekerja itu.

Kendati produknya asli batik tulis tanpa bantuan cap (pencetak motif), harga yang ditawarkan terjangkau. Dia mematok batik motif asli maupun kreasi pada kisaran Rp 90.000 hingga Rp 125.000. Lain halnya dengan pemilik batik tulis Tjokro Bukhari (59). Pria asal Bakaran Wetan yang telah bergelut dengan batik sejak 1977 itu, usahanya tergolong lebih besar.

Dia membedakan harga motif orisinel dengan kreasi. Untuk motif kreasi hampir sama dengan perajin lainnya, antara Rp 80.000-Rp 300.000. Adapun motif asli dibanderol kisaran Rp 500.000 hingga jutaan rupiah, bergantung kualitas bahan dan pewarna yang dipesan. Semakin asli atau menggunakan bahan-bahan alami maka harga kian melejit.

Wakil Bupati Kartina Sukawati SE MM pernah menggagas pembentukan cluster batik tulis. Namun, pengorganisasian para perajin tidak berjalan baik sehingga pihaknya kesulitan membantu permodalan.

Sejauh ini yang bisa dilakukan hanya melindungi hak cipta dengan terus mengupayakan pengajuan motif batik yang masih tercecer ke Ditjen Haki. Kesempatan mengenalkan batik ke luar daerah, bahkan luar negeri juga sering dilakukan dengan mengikutsertakan perajin ke sejumlah event pameran, mulai dari lokal, Semarang hingga ke Jakarta.

“Kalau tidak ada kendala kami akan mendorong pendirian pusat produk khas Pati yang ada di Juwana untuk membantu pemasaran. Tetapi itu butuh dukungan dari semua pihak, termasuk perajin untuk mau bersatu,” tandasnya.

Motif batik dari Pekalongan, harus diakui sudah berkembang pesat mengikuti perkembangan zaman. Perajin sudah tidak mempedulikan motif batik dengan pakem kerajaan, tetapi yang dikembangkan adalah motif yang memiliki nilai bisnis tinggi. ”Kalau motif batik tertentu laris, maka mereka membuat terus sampai selera konsumen menurun. Pada prinsipnya, perajin Pekalongan itu hanya memproduksi sesuai dengan selera masyarakat,” kata tokoh batik Pekalongan, H Fatchurohman Noor yang ditemui di rumahnya kemarin.

Untuk itu, tidak aneh jika batik-batik yang dibuat masyarakat Pekalongan berbeda dengan daerah lain. Adapun ciri-ciri batik Pekalongan, adalah memiliki warna yang ngejreng (mencolok), dan motifnya kontemporer (mengikuti perkembangan zaman).

Karena berkembang kekinian, maka para perajin berusaha bisa membatik dengan motif apa pun. Motif Belanda, Jepang, China, Jawa ataupun motif dari dalam negeri seperti batik papua, batik banyumasan, cirebonan, batik yogya, dan batik solo, semuanya bisa dibuat di Pekalongan.

”Pembatik Pekalongan itu luar biasa. Dalam keadaan terpaksa pun, mereka bisa memiliki ide membuat batik dengan motif baru,” katanya.

Tanggapan Positif

Pemilik Nulaba Batik Pekalongan itu mengakui, batik pekalongan merupakan peninggalan nenek moyang. Masyarakat pun juga nguri-uri batik itu hingga berkembang saat ini. Karena itu, tidak aneh jika pengakuan batik Indonesia sebagai warisan tak benda oleh UNESCO pada 2 Oktober lalu mendapat tanggapan positif masyarakat di Kota Batik.

Dia mengaku sangat mencintai batik, karena sebagai satu-satunya usaha yang digelutinya dan merupakan warisan orang tuanya. Pengakuan UNESCO itu, sedikit banyak memang berpengaruh pada kecintaan masyarakat pada batik. Apalagi belakangan ini, pemerintah juga selalu mendorong rakyatnya memakai pakaian batik. Bahkan pakaian batik kini juga dinyatakan sebagai pakaianan nasional yang mendorong perkembangan batik meningkat pesat.

Menurut dia, agar batik tetap lestari, maka semua pihak harus andil nguri-uri budaya warisan nenek moyang itu. Caranya, perajin, pemerintah, dan masyarakat harus bersatu. Sebab, kenyataan di lapangan, perkembangan batik itu, juga akan berdampak kesejahteraan masyarakatnya mengingat industri batik bisa menyerap tenaga kerja yang banyak dan lain-lain.

Perajin batik, menurut dia, juga bukan hanya pengusaha batik tulis atau cap saja, namun batik printing dan sablon diharapkan juga ikut peduli. Sebab, perkembangan batik printing itu tidak lepas budaya batik pada saat itu. Kita harus mengakui, batik printing itu mengambil beberapa motif batik. Karenanya, untuk melestarikan batik, semua pihak harus terlibat, tidak terkecuali batik printing.

Mengenai upaya pelestarian batik itu, Fatchurohman mengakui, di Pekalongan sudah dilakukan dengan pendirian Museum Batik. Penerapan muatan lokal batik mulai dari SD, SMP, bahkan membuka Jurusan Batik di SMK Negeri 3 Pekalongan dan dilanjutkan Jurusan Batik di Politeknik Pusmanu Pekalongan.

Kemudian juga dilakukannya kegiatan tahunan berupa pekan batik Nusantara dan berbagai kegiatan yang mendorong makin dikenalnya batik di tingkat nasional maupun internasional.

Dari masyarakat sendiri juga sudah membentuk organisasi berupa Paguyuban Pencinta Batik yang selalu menyelenggarakan berbagai kegiatan dalam mempertahankan batik. Dengan demikian, batik bisa berkembang di Pekalongan dan sekitarnya. Untuk itulah, upaya melestarikan batik, jangan hanya dibebankan pada pemrintah saja, namun masyarakat dan perajin itu sendiri, sehingga batik tetap berkembang di Pekalongan. (Mulyanto Ari Wibowo, M Noor Efendi, Chandra Iswinarno, Trias Purwadi-20)

Rabu, 05 Mei 2010

Berita dari Suara Merdeka

06 Mei 2010
Agus Hartoko Kembangkan Motif Baru

Diilhami Pemilik Batik ''Tjokro'', Ciptakan Kreasi Khas Pesisiran


MOTIF batik Semarangan, Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Lasem, Madura, atau motif yang membawa nama daerah tertentu sudah jamak kita temui. Tapi bagaimana dengan motif batik pohon bakau, ubur-ubur, atau plankton? Sudahkah pernah Anda melihat bahkan memakainya?

Motif batik khas kelautan inilah yang sekarang sedang dikembangkan oleh Dr Ir Agus Hartoko MSc, dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro.

Bermula dari perjalanannya ke Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, 8 Februari lalu, Agus berkenalan dengan Bukhari Wiryo Satmoko, pemilik industri batik rumah tangga ‘’Tjokro’’.

Keduanya melakukan perbincangan soal kelautan dan batik tulis bakaran khas Juwana.

Batik bakaran merupakan warisan Nyi Danowati, penjaga museum pusaka dan pembuat seragam prajurit keraton pada akhir Kerajaan Majapahit.

Perbincangan itu yang mengilhami Agus untuk membuat motif baru, yakni pohon bakau hanya dalam waktu sepuluh menit.

Sketsa motif bakau tersebut kemudian diterjemahkan oleh Bukhari menjadi desain baru batik tulis bakaran. Sebelumnya, motif batik bakaran yang diajarkan Nyi Danowati adalah motif batik majapahit seperti sekar jagat, padas gempal, magel ati, limaran, dan gandrung. Namun, setelah itu dikembangkan juga motif kontemporer, antara lain motif pohon druju (juwana), gelombang cinta, kedelai kecer, jambu alas, dan blebak urang.

“Saya hanya ingin melestarikan budaya dan menjaga tradisi batik bakaran agar tidak punah. Dengan mengenalkan motif-motif baru batik pesisiran bertema kelautan yang masih memiliki potensi untuk dapat dikembangkan hingga mancanegara,” tutur mantan sekretaris Lemlit Undip itu.

Akar Napas

Menurut pria kelahiran Semarang, 16 Agustus 1957 ini, motif pohon bakau muda dipilih karena satu-satunya jenis tanaman yang bisa hidup di pesisir pantai.

Akar pohon bakau yang besar-besar dan panjang lengkap dengan daun-daunnya tergambar begitu jelas pada motif ini. Seolah Agus ingin menggambarkan sistem akar napas yang menjadi kelebihan tanaman ini.

Ditambahkan, ciri khas batik bakaran bisa dilihat dari motif retak. Kain yang sebelumnya diblok penuh oleh malam, kemudian dipecah-pecah sehingga menjadi retak. Retakan itulah yang kemudian memunculkan motif retak.

“Sejauh ini, kami baru memproduksi beberapa lembar kain batik tulis untuk bahan kemeja pria dan baju wanita,” imbuhnya. (Fani Ayudea-61)