







Karya baru batik tulis Pati tersebut, ikut dipamerkan di gelar pameran produk unggulan dalam rangka peringatan hari jadi Ke 270 Kabupaten Wonogiri. Setidak-tidaknya telah diciptakan sekitar 10 motif batik baru atau 'gagrak anyar'. Terdiri atas motif Gelombang Cinta, Anggrek Hutan, Kembang Druju, Hujan Emas, Anggrek Pohon, Kupu Kasmaran, Pari Jotho, Jambu Alas, Kembang Cengkeh dan Tlogo Sunyi. Harganya bervariasi antara Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu.
Kain batik tulis dari Kabupaten Pati Jateng, memiliki gurat-gurat pecah seperti pada batik Wonogiren atau batik tulis khas Wonogiri. Produk unggulan Pati yang dipamerkan, terdiri atas aneka kerajinan logam, tenun, hiasan lampu, dan batik tulis. Batik tulis Pati dikenal sebagai batik bakaran pesisiran.
Merupakan karya tangan menarik atau 'hand made exlusive', yang telah turun menurun dari generasi Nyai Donowati atau Nyai Sabirah. Yakni tokoh legendaris keturunan bangsawan Mojopahit yang memiliki kecakapan membatik. Karya batik tulis kuno jenis bakaran dari Kabupaten Pati yang terkenal, terdiri atas motif Gandrung, Padas Gempal, Sekar Jagat dan Udan Riris.
Ajang Promosi
Dalam perkembangannya, batik tulis bakaran berkembang motifnya menjadi sekitar 21 jenis. Seperti motif Manggaran, Blebak Lung, Blebak Urang, Blebak Kopik, Sido Mukti, Rawan, Sido Rukun, Kopi Pecah, Puspo Baskoro, Truntum, Limaran, Magel Ati, Kedele Kecer, Gringsing, Nam Tikar, Ungker Cantel, Kopi Pecah, Bregat Ireng, Blebak Duri dan Merak Ngigel.
Pameran produk unggulan dibuka resmi oleh Bupati Danar Rahmanto dengan pukulan gong tiga kali. Upacara pembukaannya, dimeriahkan dengan pentas tari keprajuritan dan reog dadak merak.
PLt Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Diperindagkop) Wonogiri Reni Ratnasari SH MM, mengatakan, pameran diikuti 25 stan kecamatan, tujuh stand SKPD, dua stand lembaga PKK dan Dharma Wanita, stan perbankan, stan persatuan pedagang pasar, dan stan dari Kabupaten Pati serta juga ikut dipajang pameran foto kehumasan.
Bupati Danar berharap, media pameran ini sekaligus dapat dijadikan ajang promosi untuk memperkenalkan produk dan mencari peluang pasar. Agar produk unggulan daerah dapat memperoleh kesempatan dikenal publik dan menembus pasar secara luas.
"Syukur dapat memperoleh jalinan kemitraan dalam upaya menjadikan produk unggulan daerah sebagai komoditas ekspor ke manca negara," tutur Bupati Danar.
Beberapa pengrajin batik menghendaki untuk pembayaran di muka agar produksinya bisa lancar dan pembeli akan segera menerima pesanan yang diminta, hal ini mengingatkan pada masa tahun 70-an dimana pada waktu itu batik juga mengalami permintaan yang cukup lumayan jumlahnya.Perbedaan batik tulis dan batik cap bisa dilihat dari beberapa hal sbb:
Batik Tulis
Batik Cap
Disamping adanya perbedaan dari sisi visual antara batik tulis dan batik cap, namun dari sisi produksi ada beberapa kesamaan yang harus dilalui dalam pengerjaan keduanya. Diantaranya adalah sbb:
Tetapi sekarang dengan perkembangan pasar akan batik dan kreatifitas pembatik munculah teknik membatik yang menggabungkan keduanya, cintailah produk batik tulis asli buatan tangan-tangan terampil anak bangsa "Hidup Batik Tulis Indonesia".
Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan NonbendawiMasterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009. [1] (
Seni pewarnaan kain dengan teknik pencegahan pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T'ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal.[2]. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.[3]
Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. [2]Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik.[4]
G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.[4] Detil ukiran kain yang menyerupai pola batik dikenakan oleh Prajnaparamita, arca dewi kebijaksanaan buddhis dari Jawa Timur abad ke-13. Detil pakaian menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang rumit yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa yang dapat ditemukan kini. Hal ini menunjukkan bahwa membuat pola batik yang rumit yang hanya dapat dibuat dengan canting telah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal.
Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa.[5] Oleh beberapa penafsir,who? serasah itu ditafsirkan sebagai batik.
Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.[2]
Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Pada saat yang sama imigran dari Indonesia ke Persekutuan Malaya juga membawa batik bersama mereka.
Budaya batikBatik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.
Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.
Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.
| SM/Mulyanto Ari Wibowo MEWARNAI BATIK: Pengusaha batik lasem Widji Soeharto melakukan pewarnaan di tempat kerjanya kemarin. (46) |
Setahun lalu, batik Indonesia resmi diakui UNESCO.
Batik sudah menjadi warisan budaya yang diakui United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Ada hasil yang cukup signifikan dengan penetapan itu. Namun ada pula tantangan mengadang para perajin batik.
Seorang lelaki berumur 70-an tahun, membuka pintu pagar kayu setinggi dua meter. Dengan ramah, pria yang masih mengenakan baju berlumuran tinta itu mempersilakan masuk rumah kuno berarsitektur campuran China - Eropa di jalan Babagan IV/7 Desa Babagan Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang.
Seusai memasuki halaman rumah yang ditumbuhi dua pohon mangga rimbun, kami dibawa ke teras yang dipasangi tiga buah etalase kaca. Di dalam etalase itu dipajang puluhan lembar kain batik dengan berbagai macam motif. Di setiap kain, tertempel secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang menunjukkan harga jual batik yang dipajang.
Dari mulai yang termurah Rp 175.000 per lembar hingga Rp 3 jutaan per lembar, terpampang di etalase yang selalu terkunci itu.
”Lumayan, meski kecil-kecilan dan terlihat seadanya, setahun ini sudah bisa buat showroom sederhana. Keuntungan sedikit demi sedikit dikumpulkan untuk buat showroom,” jelas Widji Suharto, si empunya rumah.
Pemilik usaha batik lasem cap Padie Boeloe ini menuturkan, setelah penetapan UNESCO, berbagai kalangan mulai menaruh perhatian lebih terhadap batik. Event-event pameran ramai digelar. Orang dari sejumlah daerah juga berburu batik hingga ke Lasem. ”Bahkan, kemudian ada yang menjadi agen penjualan di Jakarta, Bogor hingga Papua. Setahun ini, penjualan cukup lumayanlah,” ujar dia.
Widji bukan satu-satunya pengusaha batik yang mulai agresif memperlebar pasar. Setidaknya, selain showroom batik lasem yang dikelola koperasi pengusaha batik di Lasem, di kecamatan tersebut kini ada tiga ruang pamer yang dikelola secara profesional. Ketiga ruang pamer itu yaitu Batik Kuda milik Purnomo di Jalan Raya Pantura Lasem, Batik Pusaka Beruang milik Santosa, dan Surya Kencana milik Sri Susiloningsih.
Ketua Koperasi Batik Lasem Santosa mengakui, dalam setahun ini perkembangan batik memang luar biasa. Namun, dia juga mengaku masih banyak tantangan bagi pengusaha batik lasem. ”Sampai saat ini belum ada entrepreneur batik lasem yang bisa menembus pasar ekspor,” kata pemilik usaha batik lasem cap Pusaka Beruang ini.
Selain itu, tantangan perkembangan batik ke depan adalah melonjaknya bahan baku kain. Setahun ini, harga kain mori sebagai bahan utama batik terus mengalami kenaikan. Untuk kain katun jenis prima yang semula harga per yard (90 cm) hanya Rp 5.400, naik menjadi Rp 6.400. Jenis primis dari Rp 8.750 menjadi Rp 9.250. Jenis kereta kencana, dari Rp 14.864 menjadi Rp 16.486. ”Tahun ini, kenaikan bahan utama batik mencapai 10 persen. Kenaikan kain mori ini dikarenakan bahan baku kain dari negara penghasil kapas seperti India sudah dikontrak China,” papar dia.
Meski harga kain mori mulai melonjak, pengusaha tidak berani menaikkan harga kain batik lasem. Bila nekat, pengusaha khawatir pasar batik yang sedang mulai berkembang ini akan lari tunggang langgang. ”Namun bila tidak dinaikkan, ongkos produksi kami juga mulai naik. Selain kain, pembatik juga banyak yang minta kenaikan upah,” tandas Widji.
Lain halnya dengan batik bakaran asal Juwana, Kabupaten Pati. Perkembangan batik tulis bakaran, belakangan ini cenderung stagnan. Setelah kebangkitannya pada 2000, hingga saat ini grafik pergerakan produksi, dan pemasarannya mentok pada titik yang bisa jadi belum maksimal dibanding era puncak kebangkitan, empat tahun lalu.
Keberadaan batik tulis khas Pati terangkat sejak “tertidur” sekian lama. Konon, batik bakaran dulunya dipasarkan keliling dari pasar ke pasar di seputaran Bumi Minta Tani. Namun, seiring perkembangannya, warisan budaya leluhur itu mampu menembus berbagai kalangan hingga menaikkan produksinya.
Memberi Dukungan Pergerakan usaha batik tulis yang tersentral di Kecamatan Juwana, khususnya Desa Bakaran Wetan dan Bakaran Kulon, setelah sekian lama tidak banyak berubah. Meskipun terangkat dengan pasar PNS, minim sekali perajin yang mau bergelut dengan canting.
Potensi tambak dan hasil laut yang dianggap lebih menjanjikan penghasilan masyarakat pesisir Juwana tampaknya berpengaruh pada ketertarikan mereka mewarisi karya budaya leluhur.
Pada perkembangannya, batik bakaran tidak lepas dari jargon Bumi Mina Tani. Itu tergambar dari motif yang terbentuk, baik yang orisinel maupun modifikasi. Bukan hanya hasil bumi (kopi dan kedelai) yang terpola dalam kain batik, torehan lilin seakan juga mengekspresikan hasil laut, seperti udang, dan ikan. Semuanya tergambar dari sejumlah motif asli dan hasil kreasi perajin generasi belakangan.
Mulanya, pengajuan tersebut untuk perorangan, tetapi Haki mencatatnya sebagai hak cipta Pemkab Pati lantaran dinilai milik bersama. Adapun 13 motif lainnya yang masih dalam proses pemeriksaan lebih lanjut dari pihak terkait antara lain, manggaran, adas gempal, bregat ireng, kedele kecer, merak ngigel, magel ati, blebak urang, blebak lung, nam tikar, truntum, blebak duri, ungker cantel, dan puspo baskoro.
Alasan klise permodalan, dianggap menjadi pangadang perkembangan usaha rumahan batik. Mereka hanya mampu berproduksi ketika uang penjualannya telah kembali. Kondisi demikian secara tidak langsung menempatkan batik sebagai usaha sambilan, selain melaut, bertambak, bekerja di tempat pengolahan ikan, atau bertani. Setidaknya hanya tinggal lima perajin yang masih berproduksi. Empat di antaranya di Bakaran Kulon dan sisanya di Bakaran Wetan.
Sebut saja Darmi (45). Pemilik usaha batik tulis Srikandi asal Desa Bakaran Kulon itu, kesulitan modal sehingga usahanya cenderung jalan di tempat. Meskipun puluhan produknya dalam sepekan sering diambil sales untuk dipasarkan ke luar daerah, namun modalnya pas-pasan.
“Kalau membuat batik sih bisa dikebut, tetapi modal kami kurang jadi susah. Kalau soal pemasaran sebenarnya tidak ada masalah, asal tidak menjual terlalu mahal bisa laku,” kata pembatik yang memiliki 10 pekerja itu.
Kendati produknya asli batik tulis tanpa bantuan cap (pencetak motif), harga yang ditawarkan terjangkau. Dia mematok batik motif asli maupun kreasi pada kisaran Rp 90.000 hingga Rp 125.000. Lain halnya dengan pemilik batik tulis Tjokro Bukhari (59). Pria asal Bakaran Wetan yang telah bergelut dengan batik sejak 1977 itu, usahanya tergolong lebih besar.
Dia membedakan harga motif orisinel dengan kreasi. Untuk motif kreasi hampir sama dengan perajin lainnya, antara Rp 80.000-Rp 300.000. Adapun motif asli dibanderol kisaran Rp 500.000 hingga jutaan rupiah, bergantung kualitas bahan dan pewarna yang dipesan. Semakin asli atau menggunakan bahan-bahan alami maka harga kian melejit.
Wakil Bupati Kartina Sukawati SE MM pernah menggagas pembentukan cluster batik tulis. Namun, pengorganisasian para perajin tidak berjalan baik sehingga pihaknya kesulitan membantu permodalan.
“Kalau tidak ada kendala kami akan mendorong pendirian pusat produk khas Pati yang ada di Juwana untuk membantu pemasaran. Tetapi itu butuh dukungan dari semua pihak, termasuk perajin untuk mau bersatu,” tandasnya.
Motif batik dari Pekalongan, harus diakui sudah berkembang pesat mengikuti perkembangan zaman. Perajin sudah tidak mempedulikan motif batik dengan pakem kerajaan, tetapi yang dikembangkan adalah motif yang memiliki nilai bisnis tinggi. ”Kalau motif batik tertentu laris, maka mereka membuat terus sampai selera konsumen menurun. Pada prinsipnya, perajin Pekalongan itu hanya memproduksi sesuai dengan selera masyarakat,” kata tokoh batik Pekalongan, H Fatchurohman Noor yang ditemui di rumahnya kemarin.
Untuk itu, tidak aneh jika batik-batik yang dibuat masyarakat Pekalongan berbeda dengan daerah lain. Adapun ciri-ciri batik Pekalongan, adalah memiliki warna yang ngejreng (mencolok), dan motifnya kontemporer (mengikuti perkembangan zaman).
Karena berkembang kekinian, maka para perajin berusaha bisa membatik dengan motif apa pun. Motif Belanda, Jepang, China, Jawa ataupun motif dari dalam negeri seperti batik papua, batik banyumasan, cirebonan, batik yogya, dan batik solo, semuanya bisa dibuat di Pekalongan.
”Pembatik Pekalongan itu luar biasa. Dalam keadaan terpaksa pun, mereka bisa memiliki ide membuat batik dengan motif baru,” katanya.
Tanggapan PositifPemilik Nulaba Batik Pekalongan itu mengakui, batik pekalongan merupakan peninggalan nenek moyang. Masyarakat pun juga nguri-uri batik itu hingga berkembang saat ini. Karena itu, tidak aneh jika pengakuan batik Indonesia sebagai warisan tak benda oleh UNESCO pada 2 Oktober lalu mendapat tanggapan positif masyarakat di Kota Batik.
Dia mengaku sangat mencintai batik, karena sebagai satu-satunya usaha yang digelutinya dan merupakan warisan orang tuanya. Pengakuan UNESCO itu, sedikit banyak memang berpengaruh pada kecintaan masyarakat pada batik. Apalagi belakangan ini, pemerintah juga selalu mendorong rakyatnya memakai pakaian batik. Bahkan pakaian batik kini juga dinyatakan sebagai pakaianan nasional yang mendorong perkembangan batik meningkat pesat.
Menurut dia, agar batik tetap lestari, maka semua pihak harus andil nguri-uri budaya warisan nenek moyang itu. Caranya, perajin, pemerintah, dan masyarakat harus bersatu. Sebab, kenyataan di lapangan, perkembangan batik itu, juga akan berdampak kesejahteraan masyarakatnya mengingat industri batik bisa menyerap tenaga kerja yang banyak dan lain-lain.
Perajin batik, menurut dia, juga bukan hanya pengusaha batik tulis atau cap saja, namun batik printing dan sablon diharapkan juga ikut peduli. Sebab, perkembangan batik printing itu tidak lepas budaya batik pada saat itu. Kita harus mengakui, batik printing itu mengambil beberapa motif batik. Karenanya, untuk melestarikan batik, semua pihak harus terlibat, tidak terkecuali batik printing.
Mengenai upaya pelestarian batik itu, Fatchurohman mengakui, di Pekalongan sudah dilakukan dengan pendirian Museum Batik. Penerapan muatan lokal batik mulai dari SD, SMP, bahkan membuka Jurusan Batik di SMK Negeri 3 Pekalongan dan dilanjutkan Jurusan Batik di Politeknik Pusmanu Pekalongan.
Dari masyarakat sendiri juga sudah membentuk organisasi berupa Paguyuban Pencinta Batik yang selalu menyelenggarakan berbagai kegiatan dalam mempertahankan batik. Dengan demikian, batik bisa berkembang di Pekalongan dan sekitarnya. Untuk itulah, upaya melestarikan batik, jangan hanya dibebankan pada pemrintah saja, namun masyarakat dan perajin itu sendiri, sehingga batik tetap berkembang di Pekalongan. (Mulyanto Ari Wibowo, M Noor Efendi, Chandra Iswinarno, Trias Purwadi-20)